I. Pendahuluan

Menurut Dimyati (2002:295) belajar merupakan proses melibatkan manusia secara orang per orang sebagai satu kesatuan organisme sehingga terjadi perubahan pada pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Anggapan siswa bahwa mata pelajaran Matematika adalah “teori “, ungkapan tersebut juga benar, tetapi bukan teori belaka tanpa ada maksud/tujuan. Bahwa teori adalah hal penting, juga diungkapkan oleh S. Nasution (1996:3), teori merupakan alat science yang penting sekali. Fungsinya antara lain :
Teori mengarahkan perhatian

Teori merangkum pengetahuan.

Teori meramalkan fakta.

Pada dasarnya, matematika adalah pemecahan masalah karena itu, matematika sebaiknya diajarkan melalui berbagai masalah yang ada disekitar siswa dengan memperhatikan usia dan pengalaman yang mungkin dimiliki siswa.

Berdasarkan tujuan/keinginan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap matematika dan meminimalkan anggapan-anggapan negatif terhadap matematika yang membuat para ahli pendidikan matematika di Indonesia berupaya mencari terobosan baru menemukan metode pembelajaran matematika lain dengan mengacu pada pengalaman di negara lain dan dengan melihat karakteristik yang dimungkinkan dapat diujicobakan juga di Indonesia.

Ada 3 pendekatan yang cukup mendasar, yaitu “pemecahan masalah” atau “problem solving” yang mendapat keutamaan di Jepang, “contextual teaching and learning” ataupun “connected mathematics” yang mulai dilaksanakan di sebagian Amerika dan “Realistic Mathematics Education” yang sudah melalui proses ujicoba dan penelitian lebih dari 25 tahun di Belanda.(R.Soedjadi,2001).

Adapun tujuan yang akan dicapai dari penelitian ini adalah :
Mengetahui ada tidaknya pengaruh pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik yang dipadu dengan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terhadap prestasi belajar matematika .

Mengetahui ada tidaknya pengaruh sikap siswa dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik yang dipadu dengan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terhadap prestasi belajar.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat :

Menemukan langkah-langkah pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik yang dipadu dengan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ‘

Memberikan pengalaman baru tentang model pembelajaran matematika yang dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang manfaat matematika dalam kehidupan sehari-hari.


II. Metode Penelitian

A. Rancangan Penelitian

Peneliti dengan dibantu guru matematika mengadakan pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik di kelas dengan garis besar tahapan sebagai berikut :

1. Sebelum memulai pembelajaran matematika realistik, diawali dengan pembagian kelompok siswa dengan metode Jigsaw, yaitu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dengan kemampuan yang seimbang.Selanjutnya, setiap kelompok menunjuk salah satu anggotanya yang nanti masuk ke kelompok ahli.

2. Diawali dengan masalah kontekstual (sebagai karakteristik dalam pembelajaran matematika realistik), dilakukan untuk siswa keseluruhan atau kelompok siswa, dengan soal yang berbeda-beda sesuai jumlah anggota kelompok, sebagai awal dalam pembelajaran tentang Sistem Persamaan Linier satu variabel, misalnya :

Ali membeli satu kue tar dengan harga Rp. 9.000. Harga itu setelah mendapat potongan 25 % . Berapakah harga satu kue tar tanpa potongan ?

3. Memberi pause/berpikir sejenak pada siswa untuk memecahkan masalah tersebut.

4. Siswa dalam kelompok yang berbeda dengan soal yang sama berkumpul menjadi satu kelompok untuk membahas permasalahan yang sama.

5. Peneliti/guru berkeliling dan mengamati pekerjaan siswa serta memberikan petunjuk seperlunya.

6. Setelah selesai berdiskusi, siswa kembali ke kelompoknya masing-masing untuk mengadakan diskusi keseluruhan.

7. Selanjutnya, setiap kelompok menyajikan hasil pekerjaan kelompoknya. Kemudian bersama-sama merumuskan konsep atau kesimpulan.

8. Setelah semua proses pembelajaran dengan pendekatan realistik dilaksanakan beberapa kali, diadakan tes dan dikerjakan sendiri oleh masing-masing siswa.

9. Kemudian hasil tes dievaluasi dan dianalisis untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa tentang Sistem Persamaan Linier Satu Variabel dengan menggunakan pendekatan realistik.

10. Membuat angket untuk mendapatkan informasi tentang sikap siswa terhadap ujicoba pembelajaran matematika realistik yang dipadu pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linier Satu Variabel.

B. Populasi , Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel


Sebagai populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP . Karena jumlah populasi tersebut tidak terlalu banyak, maka semua anggota populasi dijadikan sampel penelitian ini.

C. Jenis Data dan Alat Pengumpul Data


Data yang akan diperoleh dari penelitian ini berupa hasil observasi dalam pembelajaran, sikap siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran matematika realistik yang dipadu tipe jigsaw dan hasil prestasi belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran matematika realistik tersebut yang berupa skor tes.

Adapun untuk memperoleh data sebagaimana yang dimaksud, peneliti menggunakan lembar pengamatan (observasi) di kelas selama proses pembelajaran matematika realistik, lembar angket dan soal tes.

D. Teknik Analisis Data


Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data kuantitatif, yaitu berupa skor (nilai) dari hasil pengerjaan siswa pada tes kemampuan matematika siswa pokok bahasan Sistem Persamaan Linier Satu Variabel dan Sistem Pertidaksamaan Linier Satu Variabel yang terlibat dalam penelitian dan skor angket sikap siswa dalam pembelajaran Matematika realistik yang dipadu pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.

Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistika dan uraian berbentuk naratif. Untuk analisis secara statistika, jenis statistika yang dipilih adalah statistik deskrptif dan digunakan uji –t , dengan mengetahui terlebih dahulu syarat-syarat penggunaan uji-t tersebut.

Pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan SPSS 10, dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Uji Normalitas dan Uji Homogenitas

Dalam penelitian ini, pengujian normal tidaknya distribusi data akan digunakan uji Shapiro Wilks dan Lilliefors (atau Kolmogorov Smirnov) (Santoso, 2003:152). Jika sampel yang diperoleh berasal dari populasi berdistribusi normal, maka langkah pengujian dilanjutkan dengan uji homogenitas (kesamaan varians). Jika sampel yang diperoleh bukan berdistribusi normal, maka pengujian dilanjutkan dengan statistik non parametrik.

Dalam Santoso (2003:168), penjelasan untuk output Test of Normality sebagai berikut :

Pedoman pengambilan keputusan :

• Nilai Sig. Atau Signifikansi atau nilai probabilitas < 0,05, Distribusi adalah tidak normal (simetris)

• Nilai Sig. Atau Signifikansi atau nilai probabilitas > 0,05, Distribusi adalah normal (simetris)

Uji homogenitas yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu uji Levene (Levene Test).

Sedangkan untuk hasil uji homogenitas (output test of Homogenity of Variance), pedoman pengambilan keputusannya sebagai berikut :

• Nilai Sig. Atau Signifikansi atau nilai probabilitas < 0,05, data berasal dari populasi-populasi yang mempunyai varians tidak sama.

• Nilai Sig. Atau Signifikansi atau nilai probabilitas > 0,05, data berasal dari populasi-populasi yang mempunyai varians sama.

2. Menguji Hipotesis

Untuk pengujian hipotesis perbedaan kemampuan Matematika siswa, dibagi :

a. sampel berdistribusi normal

Uji yang digunakan adalah uji –t atau uji Chi-Square.

Hipotesis untuk kasus tersebut :

H0 : Tidak ada perbedaan antara kemampuan Matematika siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

H1 : Ada perbedaan antara kemampuan Matematika siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Dasar pengambilan keputusan :

Jika nilai probabilitas > 0,05 maka H0 diterima


Share/Save/Bookmark
0 komentar

Posting Komentar